HOTNEWS.ID - Nickel Industries Limited (NIC) mengumumkan rencana investasi signifikan senilai US$169 juta, setara dengan sekitar Rp3,03 triliun (berdasarkan kurs Rp17.925 per dolar AS), untuk mengambil alih 17,5% kepemilikan saham di PT Teluk Metal Industry (TMI). Aksi korporasi ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi di sektor hilirisasi nikel Indonesia.

Akuisisi saham pada proyek smelter nikel high pressure acid leaching (HPAL) ini dijadwalkan akan rampung pembayarannya paling lambat pada tanggal 26 November 2026. Proyek TMI sendiri merupakan bagian dari ekspansi proyek smelter Excelsior Nickel Cobalt (ENC) yang berlokasi di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah.

Sebagai informasi, Nickel Industries adalah perusahaan tambang yang terdaftar di bursa Australia, dengan mayoritas sahamnya dikendalikan oleh Shanghai Decent Investment (Group) Co., Ltd. Keterkaitan erat dengan Indonesia terlihat melalui afiliasi dengan PT United Tractors Tbk (UNTR).

Afiliasi ini terjalin karena anak usaha UNTR, yaitu PT Danusa Tambang Nusantara, tercatat sebagai substantial shareholder di Nickel Industries dengan persentase kepemilikan mencapai 20,14%. Keterlibatan ini menunjukkan komitmen jangka panjang terhadap hilirisasi nikel.

Proyek TMI berfokus pada produksi mixed hydroxide precipitate (MHP), komponen krusial yang sangat dibutuhkan dalam rantai pasok pembuatan baterai kendaraan listrik (EV). Kepemilikan saham 17,5% NIC akan melengkapi struktur kepemilikan yang sudah ada.

Struktur kepemilikan saham TMI setelah akuisisi ini akan terdiri dari konsorsium Korea–Jepang (meliputi LS MnM, Hanwa, dan satu investor rahasia) yang memegang 72,5%, serta Sumber International Investment dari Singapura dengan porsi 10%.

Managing Director Nickel Industries, Justin Werner, menekankan pentingnya transaksi ini bagi perusahaan. "Perolehan 17,5% kepemilikan di TMI merupakan langkah transformatif bagi Nickel Industries dan menjadi salah satu peluang terakhir untuk proyek HPAL dengan skala sebesar ini setelah pemerintah Indonesia memberlakukan moratorium terhadap proyek-proyek HPAL baru," ujar Justin Werner melalui pengumuman resmi pada Rabu (24/6/2026).

Nickel Industries juga mendapatkan jaminan konstruksi yang komprehensif terkait proyek ini, memastikan total biaya akuisisi tidak akan melampaui US$169 juta. Selain itu, kapasitas produksi desain smelter dijamin akan tercapai paling lambat September 2027.

Proyek TMI saat ini sedang dalam tahap konstruksi, dengan perkiraan dimulainya proses commissioning atau uji coba operasional pada pertengahan tahun 2027. Total biaya konstruksi proyek ini diperkirakan mencapai US$965 juta atau sekitar Rp17,29 triliun.