HOTNEWS.ID - Koreksi signifikan yang dialami oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang enam bulan pertama tahun 2026 telah menciptakan kondisi di mana valuasi saham-saham unggulan kembali terlihat relatif terjangkau. Kondisi ini membuka potensi peluang akumulasi bagi investor menjelang semester kedua tahun 2026.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada penutupan perdagangan Senin (29/6/2026), IHSG tercatat telah mengalami pelemahan sebesar 32,81% secara tahun berjalan (year-to-date/YtD).

Pelemahan indeks tersebut turut berdampak pada harga saham-saham berkapitalisasi besar, yang kini diperdagangkan pada valuasi yang lebih menarik dibandingkan sebelumnya. Beberapa contohnya adalah BBCA dengan PER 12,58 kali, BBRI pada 7,35 kali, dan BMRI di level 6,29 kali, seperti yang tercatat pada data BEI.

Selain itu, saham TLKM menunjukkan valuasi PER 14,37 kali dan AMMN berada di angka 26,32 kali, di mana kelima emiten ini merupakan komponen utama dalam indeks LQ45.

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia, menilai bahwa prospek IHSG untuk mencatatkan kinerja yang lebih baik pada paruh kedua 2026 masih terbuka lebar. Namun, ia memperkirakan bahwa reli kenaikan yang terjadi akan berlangsung secara bertahap, tidak secepat periode pemulihan pasca-pandemi.

Dilansir dari Bisnis.com, Liza Camelia menyatakan bahwa koreksi tajam yang terjadi dari Januari hingga Juni 2026 telah membuat valuasi banyak saham kembali ke level yang menarik, seolah-olah sentimen negatif yang sempat membayangi pasar sudah tercermin dalam harga.

Lebih lanjut, Liza Camelia menekankan pentingnya semester kedua sebagai periode pembuktian bagi pasar, dengan mengatakan, "Namun kami melihat semester II masih akan menjadi periode pembuktian. Agar IHSG dapat bergerak lebih tinggi secara berkelanjutan, pasar membutuhkan kombinasi stabilitas rupiah, kembalinya arus dana asing, serta pertumbuhan laba emiten yang tetap resilien," dikutip Minggu (28/6/2026).

Kiwoom Sekuritas memproyeksikan bahwa IHSG akan mampu bertahan di rentang level 7.000 hingga 7.250 pada akhir tahun 2026, dengan asumsi bahwa tidak ada ketegangan baru yang signifikan yang muncul di pasar global.

Stabilitas nilai tukar rupiah dianggap sebagai faktor krusial yang dapat memberikan dorongan signifikan bagi laju IHSG pada paruh kedua tahun ini, karena rupiah yang stabil dapat meningkatkan kepercayaan investor asing terhadap aset investasi di Indonesia. Faktor lain yang diperkirakan menjadi motor penggerak termasuk potensi penurunan suku bunga global, laba emiten yang masih solid, dan keberlanjutan stimulus pemerintah untuk menjaga konsumsi rumah tangga.