HOTNEWS.ID - Isu mengenai penumpukan ribuan kontainer yang sudah mengantongi Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB) di Pelabuhan Tanjung Priok menjadi perhatian utama Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Namun, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo segera memberikan klarifikasi mengenai situasi terkini di salah satu gerbang logistik utama Indonesia tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Pelindo menegaskan bahwa aktivitas pelayanan peti kemas dan keseluruhan operasional logistik di Pelabuhan Tanjung Priok berjalan tanpa hambatan signifikan. Pihak pelabuhan mengklaim bahwa peningkatan arus barang sepanjang tahun ini masih mampu diatasi melalui berbagai penyesuaian operasional bersama para pemangku kepentingan.

Executive General Manager Pelindo Regional 2 Tanjung Priok, Yandri Trisaputra, mengungkapkan bahwa volume peti kemas di pelabuhan tersebut memang menunjukkan tren peningkatan yang berkelanjutan. Peningkatan ini menjadi indikasi pertumbuhan aktivitas ekonomi yang perlu dikelola dengan baik.

Data menunjukkan, hingga periode April 2026, total arus peti kemas tercatat mencapai sekitar 1,85 juta TEUs. Angka ini merefleksikan pertumbuhan signifikan sebesar 10% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang hanya mencapai 1,68 juta TEUs.

Meski volume barang meningkat tajam, Yandri memastikan bahwa kenaikan tersebut belum berdampak negatif pada tingkat kepadatan terminal maupun kualitas pelayanan kapal. Pelindo memantau ketat rasio keterisian lapangan penumpukan atau Yard Occupancy Ratio (YOR) yang masih berada di bawah ambang batas aman.

"Di tengah peningkatan volume tersebut, operasional terminal peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok secara umum tetap berjalan lancar dan terkendali. Hal ini tercermin dari tingkat kepadatan terminal atau Yard Occupancy Ratio (YOR) rata-rata bulanan yang berada di bawah 60%," ujar Yandri Trisaputra kepada Bisnis, dikutip Selasa (17/6/2026).

Yandri menjelaskan bahwa standar industri mengkategorikan terminal mulai padat apabila YOR telah menyentuh angka 70%. Dengan demikian, kondisi operasional saat ini masih dianggap aman dan memadai untuk mendukung seluruh proses bongkar muat serta distribusi barang yang masuk dan keluar pelabuhan.

Pihak Pelindo secara aktif memantau kontainer yang telah memperoleh SPPB namun masih tertahan di lapangan penumpukan agar tidak mengganggu kapasitas terminal secara keseluruhan. Untuk mengamankan kelancaran, Pelindo telah menerapkan penyesuaian operasional strategis.

Langkah-langkah penyesuaian tersebut mencakup optimalisasi kapasitas lapangan penumpukan, percepatan pelayanan untuk peti kemas ekspor, serta pelaksanaan Pemindahan Lapangan Penumpukan (PLP) menuju Tempat Penimbunan Sementara (TPS) Lini II.