HOTNEWS.ID - Kelompok negara maju G7 secara resmi telah meluncurkan inisiatif strategis baru yang bertujuan untuk memperkuat ketahanan pasokan mineral kritis. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap kekhawatiran mengenai dominasi China yang saat ini menguasai sebagian besar rantai pasok global untuk sektor vital ini.
Pembentukan Aliansi Ketahanan dan Produksi Mineral Kritis (Critical Minerals Resilience and Production Alliance) ini diumumkan oleh para pemimpin G7 dalam pertemuan mereka. Inisiatif ini berfokus pada diversifikasi sumber dan peningkatan produksi di antara negara-negara sekutu G7 sendiri.
Para pemimpin G7 menyampaikan keprihatinan mendalam mengenai praktik ekonomi nonpasar yang diterapkan oleh beberapa pihak, serta pembatasan ekspor yang dianggap mengancam stabilitas ekonomi internasional. Kekhawatiran ini menjadi pendorong utama pembentukan aliansi baru tersebut.
"Para pemimpin G7 menyampaikan keprihatinan terhadap praktik ekonomi nonpasar dan pembatasan ekspor yang dinilai mengancam keamanan ekonomi internasional," Dikutip dari Kantor Berita Anadolu.
Melalui aliansi ini, G7 menetapkan target ambisius untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu pemasok di luar kelompok untuk unsur tanah jarang dan magnet permanen. Target awal ditetapkan agar ketergantungan tersebut turun di bawah 60% pada tahun 2030.
Selain target jangka pendek tersebut, para anggota G7 juga menetapkan sasaran jangka panjang yang lebih ketat, yakni mencapai tingkat ketergantungan di bawah 50% sesegera mungkin. Langkah ini menunjukkan komitmen kuat untuk membangun kemandirian pasokan.
Kementerian terkait di negara-negara G7 juga telah diminta untuk segera menetapkan target pengurangan ketergantungan spesifik untuk mineral kritis lainnya. Penetapan target ini diharapkan dapat rampung sebelum akhir tahun berjalan.
Sejak awal tahun 2026, upaya penguatan rantai pasok ini telah membuahkan hasil dengan diumumkannya sebanyak 195 proyek terkait mineral kritis. Total nilai investasi yang telah digelontorkan untuk proyek-proyek ini mencapai angka signifikan, yaitu 64 miliar euro atau sekitar US$74 miliar.
Untuk melindungi industri domestik dari gejolak pasar yang fluktuatif, G7 tengah mengkaji berbagai instrumen pengaman pasar. Instrumen tersebut mencakup subsidi selisih harga, mekanisme pengadaan bersama, hingga penetapan harga dasar atau price floor.