HOTNEWS.ID - Ketua Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Budiman Sudjatmiko, menyatakan bahwa penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) jenis non-subsidi merupakan sebuah "pil pahit" yang terpaksa diambil oleh pemerintah. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap dinamika harga global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik.

Keputusan ini diambil dengan pertimbangan utama untuk memitigasi dampak negatif kenaikan harga global tersebut agar tidak langsung menekan kelompok masyarakat yang paling rentan secara ekonomi. Pemerintah berupaya keras memastikan bahwa beban fiskal tidak sepenuhnya ditanggung oleh lapisan masyarakat di bawah.

Budiman Sudjatmiko menjelaskan filosofi kebijakan pemerintah saat ini dalam kunjungannya di Kota Semarang pada Jumat sore, 12 Juni 2026. Ia menyebutkan bahwa pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden Prabowo memiliki pendekatan unik dalam menghadapi beban sosial-ekonomi.

"Pemerintahan Pak Prabowo itu unik, ketika ada beban sosial-ekonomi, diusahakan jangan sampai terus ke bawah. Masyarakat semakin sulit, maka bebannya naik ke atas. Di sini sebenarnya yang membuat masyarakat kelas menengah menjadi resah," jelas Budiman Sudjatmiko.

Langkah penyesuaian harga tersebut, menurut Budiman, adalah strategi terpaksa demi mengurangi beban yang harus ditanggung oleh kelompok masyarakat yang berada di level bawah. Selain itu, kebijakan ini juga sejalan dengan program pemerintah untuk membangun ekosistem ekonomi baru yang lebih resilien.

Budiman juga menyoroti konteks global yang sedang bergejolak, menegaskan bahwa saat ini Indonesia tidak dapat hidup dalam ilusi. "Kita tidak lagi hidup di negeri dongeng. Dunia sedang berguncang, ada perang Iran dengan Amerika, kenaikan BBM. Kalau ada yang mengatakan pemerintah tidak becus karena menaikkan BBM, berarti tidak ada satu pemerintahan yang becus di dunia ini," ujar Budiman Sudjatmiko.

Mantan politisi PDI Perjuangan ini juga memberikan pandangan mengenai aksi demonstrasi mahasiswa pasca kenaikan BBM non-subsidi. Ia mendorong agar mahasiswa tidak hanya menggunakan mentalitas korban dalam menyikapi kebijakan publik.

"Saya pernah menjadi aktivis. Saya pernah marah. Tetapi saya ingat bahwa kemarahan saya harus berlandaskan pada argumentasi yang jelas. Kebencian saya pada sistem itu harus dilandasi oleh rasa cinta terhadap bangsa," kata Budiman Sudjatmiko.

Budiman Sudjatmiko menyayangkan munculnya opini negatif yang menuding pemerintahan saat ini tidak peka terhadap suara masyarakat, terutama jika opini tersebut datang dari kalangan mahasiswa. Ia menekankan pentingnya sikap kritis yang berlandaskan analisis mendalam.