HOTNEWS.ID - Perusahaan modal ventura dan venture builder terkemuka di Indonesia, GDP Venture, memberikan pandangan penting mengenai strategi kelangsungan hidup (sustainability) startup di tengah gempuran perkembangan kecerdasan buatan (AI). Mereka menekankan bahwa hanya mengandalkan produk yang bagus tidak lagi menjamin keberhasilan di tengah lanskap teknologi yang bergerak cepat ini.
GDP Ventures menggarisbawahi bahwa teknologi AI menawarkan dua sisi mata uang bagi bisnis rintisan, yaitu membuka peluang besar sekaligus menghadirkan tantangan signifikan yang berpotensi mengancam eksistensi mereka. Pemahaman mendalam mengenai implementasi dan perhitungan risiko AI menjadi prasyarat utama bagi para pendiri startup.
Investing Partner GDP Ventures, Antonny Liem, menyatakan bahwa menguasai pemanfaatan AI kini bukan sekadar nilai tambah, melainkan instrumen mendasar untuk memastikan kelangsungan operasional bisnis. Pelaku usaha dituntut proaktif mengidentifikasi bagaimana disrupsi teknologi ini dapat menjadi ancaman eksistensial yang mampu melenyapkan usaha dalam waktu singkat.
Dilansir dari Bisnis, Antonny Liem menyampaikan urgensi kesadaran akan potensi AI dalam rapat yang diadakan di Jakarta pada Jumat (19/7/2026).
"Startup harus sudah tau AI itu dia bisa pakai buat apa? Ataupun AI itu bakal jadi resiko baru bisnisnya dia ke depan kah? Bisa aja misalnya dia mulai sebuah perusahaan yang dalam 2 tahun, atau lebih cepat digantikan oleh AI," ujar Antonny Liem.
Menurut Antonny, kalkulasi risiko makro yang dipicu oleh perkembangan AI ini wajib dilakukan oleh perusahaan rintisan sejak fase awal pendiriannya, bukan hanya domain korporasi berskala besar. Para pendiri harus cermat mengantisipasi skenario di mana layanan atau produk mereka mungkin menjadi usang akibat ekosistem AI yang berevolusi sangat pesat.
Selain fokus pada peningkatan produktivitas, profitabilitas, dan efisiensi operasional, GDP Ventures tetap memprioritaskan kekuatan model bisnis yang solid dan fundamental keuangan yang sehat saat melakukan penilaian potensi pendanaan di tengah ketidakpastian global.
Antonny Liem menjelaskan bahwa tantangan makroekonomi, tensi geopolitik yang meningkat, serta lonjakan biaya operasional menuntut kompetensi tinggi dari para pelaku usaha, khususnya dalam manajemen arus kas (cash flow management) dan pengelolaan keuangan yang ketat.
"Startup harus tahu bagaimana untuk mencapai sana, bagaimana, butuh uang berapa. Dan kalau udah mencapai sana bisa membuat profit seberapa. Jadi betul-betul fundamental," kata Antonny Liem.