HOTNEWS.ID - Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah intervensi dengan memberikan subsidi harga kedelai sebesar Rp2.000 per kilogram melalui Perum Bulog untuk membantu menjaga stabilitas harga bahan pangan, khususnya bagi produsen tahu dan tempe. Kebijakan ini dialokasikan untuk 250.000 ton kedelai guna meredam gejolak harga pangan yang terjadi belakangan ini.

Keputusan subsidi ini diambil mengingat sektor tahu dan tempe sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah karena hampir seluruh kebutuhan kedelai nasional dipenuhi melalui impor. Mekanisme subsidi yang dilakukan melalui Bulog ini bukanlah pendekatan baru, melainkan pernah diterapkan pada tahun-tahun sebelumnya ketika harga kedelai global melonjak drastis.

Namun, Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, menilai bahwa langkah subsidi tersebut belum mampu mengatasi masalah inti dari tingginya ketergantungan impor. Menurutnya, kebijakan ini bersifat reaktif dan belum menyentuh akar masalah struktural yang dihadapi industri.

Khudori menjelaskan bahwa sejak adanya gejolak geopolitik, harga kedelai di tingkat produsen tahu-tempe telah meningkat signifikan, dari kisaran Rp9.000 per kilogram menjadi Rp11.300 per kilogram. Kenaikan harga bahan baku sekitar 25% ini dinilai sangat memberatkan pelaku usaha.

"Bagi produsen tahu-tempe, kenaikan harga bahan baku sekitar 25% itu membuat mereka kelimpungan. Nilainya di mana di atas toleransi,” kata Khudori dalam keterangan tertulis pada Jumat (19/6/2026).

Kenaikan harga yang dirasakan produsen bersumber dari melonjaknya harga kedelai impor di pasar dunia, ditambah dengan kenaikan biaya logistik serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Kebutuhan kedelai industri tahu dan tempe nasional sendiri mencapai sekitar 2,7 juta ton setiap tahunnya.

Ironisnya, produksi kedelai dalam negeri masih sangat minim, kontribusinya tercatat di bawah 10% dari total kebutuhan nasional, sementara sisanya dipenuhi melalui impor dari negara eksportir utama seperti Amerika Serikat, Brasil, dan Argentina. Kondisi ini menempatkan produsen tahu-tempe pada posisi dilematis antara mempertahankan margin keuntungan atau menjaga daya beli konsumen.

"Ketika situasi tak tertanggungkan, opsi yang tersedia adalah menutup usaha. Jika itu terjadi pada banyak produsen tahu-tempe, pengangguran meledak. Tahu-tempe telah menghidupi ratusan ribu rakyat jelata, dari petani, produsen tempe-tahu-kecap, pedagang tahu-tempe hingga penjual gorengan pinggir jalan,” tuturnya.

Lonjakan harga kedelai yang tidak terkendali ini secara historis telah memicu aksi mogok produksi oleh para perajin tahu dan tempe, seperti yang pernah terjadi pada tahun 2008, 2010, 2012, 2013, 2015, 2021, dan 2022. Pemicu utama dari semua gejolak tersebut selalu sama, yaitu kenaikan tajam harga kedelai impor.