HOTNEWS.ID - Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI telah mengeluarkan pernyataan resmi untuk menenangkan publik terkait memanasnya kembali hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di wilayah strategis Selat Hormuz. Pemerintah memastikan bahwa hingga saat ini belum ada laporan mengenai warga negara Indonesia (WNI) maupun jemaah umrah yang terdampak langsung oleh eskalasi konflik tersebut.
Perhatian penuh pemerintah Indonesia terfokus pada peningkatan kewaspadaan dan koordinasi erat dengan seluruh perwakilan RI yang tersebar di kawasan Asia Barat. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi setiap perkembangan situasi keamanan yang mungkin terjadi di wilayah tersebut.
Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Arrmanatha Nasir menyampaikan secara gamblang bahwa belum ada laporan resmi mengenai WNI yang menjadi korban atau mengalami luka akibat ketegangan yang meningkat antara kedua negara. "Sampai saat ini belum ada laporan dampak langsung kepada para WNI dalam artian yang cedera atau yang mengalami luka-luka," ujar Arrmanatha usai menghadiri rapat kerja dengan Komisi I DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta pada Kamis (16/7/2026).
Menindaklanjuti situasi tersebut, Kemenlu bersama seluruh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di kawasan Timur Tengah terus melakukan pemantauan keamanan secara intensif. Upaya ini juga bertujuan untuk memastikan keselamatan seluruh WNI yang berada di wilayah tersebut.
Seluruh perwakilan RI di negara-negara akreditasi secara berkala memberikan laporan terkini mengenai perkembangan situasi keamanan. Laporan tersebut mencakup kondisi WNI yang bermukim maupun yang sedang berada sementara di kawasan Timur Tengah.
"Laporan tersebut langsung disampaikan kepada bapak menteri luar negeri, melalui suatu grup yang bisa membantu mereka melapor setiap saat," jelas Wamenlu Arrmanatha Nasir.
Selain itu, Kemenlu juga memberikan jaminan bahwa aktivitas jemaah umrah asal Indonesia masih berjalan normal. Belum ada laporan mengenai gangguan signifikan terhadap perjalanan ibadah umrah, termasuk penutupan bandara atau terganggunya operasional penerbangan di kawasan Timur Tengah.
Untuk memastikan kenyamanan dan keamanan jemaah, perwakilan RI di beberapa negara telah menugaskan pejabat khusus. Mereka bertugas memantau langsung kondisi jemaah Indonesia selama berada di Tanah Suci maupun saat transit di negara-negara lain.
Peningkatan kewaspadaan ini muncul setelah ketegangan antara AS dan Iran meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Militer AS dilaporkan melancarkan serangan terhadap Iran dengan tujuan untuk melemahkan kemampuan Teheran dalam menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.