HOTNEWS.ID - Kementerian Pertanian memberikan jaminan bahwa ketahanan pangan Indonesia saat ini berada dalam kondisi aman, meskipun terdapat prediksi ancaman fenomena iklim ekstrem El Nino yang dijuluki "El Nino Godzilla" oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Kepastian ini disampaikan langsung oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman setelah menghadiri pertemuan penting dengan Presiden Republik Indonesia di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada hari Kamis, 18 Juni 2026.
Dalam pertemuan tersebut, Menteri Pertanian melaporkan secara rinci mengenai kondisi terkini stok pangan nasional kepada Presiden Prabowo Subianto, yang menjadi fokus utama pembahasan. Saat ini, total stok pangan nasional tercatat mencapai kurang lebih 5,2 juta ton.
Selain stok yang ada, terdapat proyeksi hasil panen atau standing crop yang diperkirakan akan menambah pasokan sebesar 10 hingga 11 juta ton dalam waktu dekat. Hal ini memperkuat fondasi ketahanan pangan negara.
Lebih lanjut, cadangan beras yang tersimpan di berbagai entitas, termasuk hotel, rumah tangga, dan restoran, menunjukkan angka yang signifikan, yaitu sekitar 12,5 juta ton. Angka ini menjadi penyangga penting dalam situasi darurat.
"Artinya dengan cadangan tersebut, kebutuhan pangan nasional dapat terpenuhi hingga 10 sampai 11 bulan ke depan. Kalau dihitung konservatif, aman sampai April tahun depan, sementara panen puncak sudah dimulai pada Maret," ujar Amran.
Untuk memitigasi potensi dampak El Nino, Kementerian Pertanian telah mengimplementasikan berbagai program mitigasi strategis di lapangan. Langkah-langkah ini meliputi pembangunan embung, instalasi irigasi pompa, pengeboran sumur dalam, program pompanisasi, serta optimalisasi lahan rawa dan pencetakan sawah baru.
Dilansir dari Bisnis.com, Menteri Amran juga menjelaskan upaya konkret di sektor peternakan untuk menjaga stabilitas harga komoditas utama seperti telur dan ayam yang sempat mengalami tekanan penurunan. Pemerintah tengah mengumpulkan para peternak untuk merumuskan solusi bersama demi perbaikan harga di tingkat produsen.
"Konsumsi telur yang sebelumnya satu kali dalam seminggu diupayakan menjadi tiga kali, termasuk konsumsi ayam. Langkah ini diharapkan dapat mendorong perbaikan harga di tingkat peternak," katanya.