HOTNEWS.ID - Holding industri pertambangan Indonesia, MIND ID, kini tengah merancang strategi untuk mengurangi ketergantungan pasokan sulfur impor yang selama ini mendominasi kebutuhan industri hilirisasi nikel nasional. Langkah strategis ini berfokus pada pemetaan potensi pengembangan sumber sulfur domestik yang berasal dari produk sampingan (by-product) tambang tembaga dan emas.

Upaya diversifikasi sumber bahan baku ini merupakan bagian integral dari strategi MIND ID dalam memperkuat ekosistem hilirisasi mineral secara menyeluruh di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Direktur Perencanaan Pengolahan Sumber Daya Mineral MIND ID, Budi Santoso.

Kebutuhan sulfur terus melonjak seiring dengan pesatnya perkembangan industri pengolahan nikel berbasis teknologi high pressure acid leach (HPAL). Material ini memegang peranan krusial sebagai salah satu penopang utama dalam produksi bahan baku baterai kendaraan listrik (EV).

Saat ini, MIND ID bersama entitas anggota holding sedang gencar melakukan inventarisasi terhadap potensi sumber sulfur yang dapat diekstraksi dari produk sampingan hasil penambangan. Mereka mengidentifikasi material yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

"Kita memiliki by product itu tembaga maupun emas itu ada iron oxide dan iron sulfate yang mestinya itu bisa kita proses, diolah, diekstrak untuk menjadi dan diambil sulfurnya maupun diambil dan dijadikan asam sulfat untuk memenuhi hal tersebut," ujar Budi Santoso melalui keterangan resmi dikutip pada Senin (22/6/2026).

Pengembangan sulfur domestik menjadi semakin vital mengingat peningkatan proyek HPAL di Indonesia, di mana sulfur berperan sebagai bahan utama dalam proses pelindian bijih nikel limonit. Proses ini menghasilkan mixed hydroxide precipitate (MHP), yang merupakan produk antara penting bagi baterai EV.

Dijelaskan bahwa kebutuhan sulfur dalam proses HPAL cukup signifikan, dengan estimasi satu ton MHP memerlukan sekitar 11,7 ton sulfur. Oleh karena itu, ekspansi fasilitas HPAL diprediksi akan langsung meningkatkan konsumsi sulfur nasional secara drastis.

Saat ini, Indonesia masih sangat bergantung pada pasokan luar negeri, di mana lebih dari 70% kebutuhan sulfur untuk pengolahan nikel dipenuhi melalui impor. Ironisnya, sekitar 75% hingga 80% dari total pasokan impor tersebut berasal dari kawasan Timur Tengah.

"Kondisi sekarang, ternyata di Indonesia 70% lebih kebutuhan sulfur nikel itu didapatkan melalui impor dan surprisingly itu ada di area di mana saat ini sedang berkecamuk di Timur Tengah," ujar Budi Santoso mengenai kerentanan pasokan saat ini.