HOTNEWS.ID - Menjelang paruh kedua tahun 2026, antrean perusahaan yang hendak melantai di bursa saham kembali memanjang dengan enam emiten siap melakukan penawaran umum perdana saham (IPO). Enam perusahaan tersebut adalah PT RANS Entertainmen Indonesia Tbk. (RANS), PT Bach Multi Global Tbk. (BACH), PT Nitrasanata Dharma Tbk. (JECX), PT Esa Medika Mandiri Tbk. (EMMI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk. (PRDL), serta PT Niramas Utama Tbk. (JELI).
Gelombang IPO ini terjadi pada saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sedang menghadapi tekanan signifikan, terlihat dari pelemahan sebesar 31,81% secara tahunan (YtD) hingga mencapai level 5.896,14 pada penutupan perdagangan Jumat (26/6). Kondisi pasar yang sedang terkoreksi ini juga diiringi dengan aksi jual bersih (net sell) asing yang tercatat mencapai agregat Rp71,68 triliun.
Kondisi pasar yang lesu ini menimbulkan tantangan tersendiri bagi kesuksesan IPO, terutama terkait dengan daya serap investor yang menjadi lebih selektif. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyoroti bahwa gelombang IPO ini bertepatan dengan periode kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate).
Kenaikan BI Rate otomatis meningkatkan biaya dana (cost of fund) bagi sektor perbankan, sehingga berdampak pada mahalnya suku bunga kredit modal kerja maupun investasi. "Pendanaan lewat IPO di sisa akhir tahun ini sangat menarik dari sisi kebutuhan emiten, tetapi proses eksekusinya akan menuntut kompromi besar pada penentuan harga perdana agar bisa memikat likuiditas investor yang sedang selektif," jelas Nafan, seperti dikutip pada Minggu (28/6/2026).
Nafan menekankan bahwa bagi investor, pemilihan saham IPO di tengah kondisi pasar saat ini harus dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan kombinasi valuasi, tingkat profitabilitas, sponsor atau Ultimate Beneficial Owner (UBO), rencana penggunaan dana IPO, serta risiko likuiditas pasca-listing.
Lebih lanjut, Nafan membedah keunggulan spesifik dari beberapa calon emiten yang akan melantai di bursa. Menurutnya, PRDL terlihat menarik karena memiliki valuasi paling murah, dengan rasio Price to Earning Ratio (PER) berada di kisaran 10,3 hingga 12,3 kali, serta Price to Book Value (PBV) pasca-IPO sekitar 1,2 kali sampai 1,4 kali, didukung oleh reputasi Grup Prodia.
"Kalau BACH mencatat ROE tertinggi 28,9% dan didukung Grup Djarum, dengan potensi market cap sekitar Rp2,04 triliun," tambah Nafan, merujuk pada emiten lain yang memiliki kinerja keuangan kuat. Sementara itu, JECX menawarkan potensi market cap terbesar mencapai Rp4,55 triliun berkat dukungan Grup Emtek, namun valuasinya tergolong paling premium dengan PER mencapai 52,9 hingga 61,8 kali.
Mengenai RANS, Nafan menilai bahwa emiten ini memiliki keunggulan berupa kesadaran merek (brand awareness) yang sangat kuat, mencatat Return on Asset (ROA) tertinggi sebesar 13,2%, dan memiliki Debt to Equity Ratio (DER) terendah di antara emiten IPO lainnya, yakni 0,35 kali. "JELI dan EMMI sama-sama mencatat ROE solid masing-masing 27,0% dan 25,2%, namun valuasi yang premium dan leverage keduanya relatif lebih tinggi," terang Nafan.
Di sisi lain, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, memberikan pandangan bahwa EMMI dan PRDL dinilai memiliki narasi pertumbuhan (growth story) yang paling solid di antara para calon emiten yang ada. Kedua emiten sektor kesehatan ini didukung oleh rencana ekspansi diagnostik yang luas serta potensi penetrasi pasar yang masih terbuka lebar.