HOTNEWS.ID - Sebuah penemuan menarik datang dari para ilmuwan di University of Southern California (USC) mengenai manfaat puasa berkepanjangan bagi kesehatan tubuh manusia. Mereka mendapati bahwa pelaksanaan puasa selama 72 jam secara efektif dapat memicu regenerasi sel punca.
Proses ini berfungsi sebagai mekanisme memulai kembali (reset) sistem kekebalan tubuh yang ada di dalam diri kita. Hal ini perlu ditekankan bahwa kondisi ini bukanlah bentuk kelaparan, melainkan sebuah pembersihan biologis terstruktur.
Pembersihan biologis ini memaksa tubuh untuk melakukan pembangunan ulang fundamental pada dirinya sendiri dari perspektif internal. Mekanisme utama di balik fenomena ini dikenal sebagai proses autofagi.
Dalam proses autofagi tersebut, sel-sel tubuh mulai menjalankan fungsi pembersihan dengan mencerna protein yang sudah rusak dan mitokondria yang bermasalah. Proses ini mengubah limbah seluler tersebut menjadi sumber energi yang dapat dimanfaatkan.
Penelitian yang dilakukan oleh ahli biogerontologi terkemuka dari USC, Valter Longo, memberikan landasan ilmiah mengenai dampak puasa berkepanjangan. Dijelaskan bahwa puasa panjang dapat berkontribusi melemahkan metabolisme sel-sel kanker.
"Penelitian ahli biogerontologi USC, Valter Longo, menunjukkan bahwa puasa berkepanjangan dapat membantu melemahkan metabolisme sel kanker — memberikan sel-sel sehat keuntungan dalam regenerasi," ujar Valter Longo. Hal ini memberikan keuntungan bagi sel-sel sehat untuk melakukan regenerasi secara lebih optimal.
Selama menjalani periode puasa, aspek hidrasi menjadi sangat krusial, dan ini tidak hanya terbatas pada asupan air murni saja. Elektrolit penting seperti natrium dan magnesium berperan sebagai penunjang kehidupan vital tubuh.
Elektrolit tersebut berfungsi untuk menjaga stabilitas fungsi jantung, memastikan otot tetap dapat bekerja dengan baik, dan menjaga tingkat energi tetap stabil sepanjang durasi puasa berlangsung.
Terkait pengalaman menjalani puasa, periode 72 jam pertama sering kali dirasakan sangat menantang bagi banyak orang. Namun, saat memasuki siklus puasa kedua, tubuh umumnya sudah mulai bisa menoleransinya dengan lebih baik.