HOTNEWS.ID - Gangguan pasokan listrik yang terjadi di sejumlah wilayah Pulau Jawa kini mulai memberikan dampak signifikan terhadap operasional industri semen nasional. Para pelaku usaha sektor ini tengah menghadapi tantangan serius terkait pembatasan beban listrik yang berpotensi mengganggu kelancaran produksi.

Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (ASPERSSI) menyatakan bahwa pembatasan listrik ini dapat memicu penurunan utilisasi pabrik secara drastis. Jika pembatasan terus berlanjut dalam durasi yang panjang, utilisasi pabrik berpotensi tertekan hingga 50 persen, yang kemudian akan meningkatkan biaya operasional secara keseluruhan.

Ketua Umum ASPERSSI, Lilik Unggul Raharjo, mengonfirmasi bahwa sejumlah pabrik semen di Jawa Barat telah menerima instruksi untuk melakukan pengurangan konsumsi energi dengan skema yang bervariasi. "Ada yang diminta mengurangi beban pemakaian 50%, ada juga yang diminta kurangi beban selama tiga jam sehari,” ujar Lilik kepada Bisnis pada Minggu (21/6/2026).

Sementara itu, situasi di Jawa Timur menunjukkan adanya insiden tak terduga meskipun belum menerima permintaan pengurangan beban secara resmi. Tercatat telah terjadi pemadaman listrik mendadak yang menargetkan unit penggilingan akhir di area Gresik.

"Sementara pabrik semen terintegrasi di Jawa Timur belum menerima permintaan pengurangan beban, namun telah terjadi pemadaman listrik mendadak di unit penggilingan akhir di Gresik," ungkap Lilik. Mengenai kondisi di Jawa Tengah, hingga saat ini dilaporkan belum ditemukan kendala serupa yang dialami oleh pabrik semen di wilayah tersebut.

Lilik menegaskan bahwa dampak paling nyata dari pembatasan konsumsi listrik ini adalah tekanan terhadap kinerja produksi sektor semen dan tingkat utilisasi pabrik. Ia memprediksi penurunan utilisasi yang cukup signifikan jika kondisi ini berlarut-larut.

"Potensi terburuk penurunan utilisasi bisa mencapai 30% sampai 50% pada kondisi pengurangan beban," prediksi Lilik mengenai skala dampak yang mungkin terjadi pada kapasitas produksi.

Risiko yang lebih mengkhawatirkan adalah potensi kerusakan pada mesin produksi bernilai investasi tinggi jika listrik padam secara mendadak tanpa adanya notifikasi sebelumnya. "Kalau sering mati mendadak, sudah ada beberapa pengalaman terjadi kerusakan fatal di alat," tegas Lilik mengenai kerentanan peralatan pabrik.

Untuk merespons tantangan ini, industri semen telah mempersiapkan strategi mitigasi yang terstruktur guna meminimalkan kerugian operasional. Salah satunya adalah penyesuaian jadwal produksi dan pemeliharaan agar selaras dengan jadwal pembatasan beban listrik yang ditetapkan.