HOTNEWS.ID - Fenomena layanan jasa yang menawarkan pendampingan untuk kembali menjalin hubungan dengan mantan pasangan belakangan ini tengah menjadi sorotan, khususnya di China. Banyak individu yang masih menyimpan harapan untuk bersatu kembali dengan kekasih lama rela mengeluarkan biaya besar demi mewujudkan keinginan tersebut.

Sejumlah pelatih hubungan atau relationship coach menawarkan jasa khusus dengan tarif fantastis, bahkan mengklaim memiliki tingkat keberhasilan hingga 90 persen. Layanan ini menarik perhatian banyak orang yang sedang mengalami patah hati dan rindu pada mantan.

Salah satu klien, yang memilih menggunakan nama samaran Wan, mengaku telah mengeluarkan dana sebesar 3.500 yuan atau sekitar Rp 9,2 juta untuk mengikuti program pendampingan selama satu bulan. Sebelum menawarkan paket berbayar, klien mendapatkan sesi konsultasi gratis selama 90 menit.

"Saya mengeluarkan dana sebesar 3.500 yuan atau sekitar Rp 9,2 juta untuk mengikuti program pendampingan selama satu bulan," ungkap Wan, seorang klien yang menggunakan nama samaran.

Kisah Wan menggambarkan betapa besarnya harapan yang digantungkan pada jasa-jasa ini, bahkan sebelum komitmen finansial penuh dibuat. Sesi konsultasi gratis selama 90 menit menjadi daya tarik awal bagi para pencari solusi.

Tingkat keberhasilan yang diklaim mencapai 90 persen oleh para penyedia jasa ini menjadi magnet kuat bagi individu yang sedang dilanda kerinduan dan keinginan untuk memperbaiki hubungan yang telah kandas. Klaim ini seringkali menjadi pemicu awal bagi banyak orang untuk mencoba layanan tersebut.

Namun, di balik janji muluk tersebut, realitas yang dihadapi oleh banyak klien seringkali berujung pada kekecewaan mendalam. Pengeluaran biaya yang tidak sedikit tidak menjamin hasil yang diharapkan, meninggalkan rasa kehilangan tidak hanya dalam hal hubungan, tetapi juga finansial.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai etika dan efektivitas dari jasa "balikan mantan" yang menjamur ini. Menawarkan solusi instan untuk masalah hati yang kompleks tentu memerlukan pertimbangan matang dari kedua belah pihak, baik penyedia jasa maupun klien.

Dikutip dari JAKARTAHYPE.COM, fenomena ini menunjukkan kerentanan emosional individu yang tengah berduka atas kandasnya hubungan asmara. Harapan untuk kembali bersama mantan seringkali mengalahkan logika, membuat mereka rentan terhadap tawaran jasa yang belum tentu terbukti keampuhannya.