HOTNEWS.ID - Saat ini, berbagai upaya terus dilakukan untuk mengatasi permasalahan sampah organik, dan salah satu metode yang menarik perhatian adalah pemanfaatan larva Black Soldier Fly (BSF) atau yang dikenal sebagai maggot. Metode biokonversi ini menawarkan cara cepat untuk mengurai sisa makanan dan limbah nabati.

Pengolahan sampah organik menggunakan maggot ini terbukti sangat efektif dan ramah lingkungan karena mampu mengubah limbah menjadi dua produk bernilai tinggi. Produk tersebut adalah biomassa maggot yang dapat digunakan sebagai pakan ternak dan kasgot yang berfungsi sebagai pupuk organik.

Model pengelolaan sampah berbasis maggot ini memberikan dampak signifikan dalam mengurangi volume timbulan sampah secara keseluruhan. Selain mengurangi volume, proses ini juga menghasilkan produk sampingan yang memiliki nilai jual, mendukung keberlanjutan lingkungan dan ekonomi.

Proses biokonversi ini mencakup beberapa tahapan penting, mulai dari pengumpulan sampah organik yang akan diolah, proses penguraian oleh maggot, hingga pemanfaatan hasil akhir berupa pakan dan pupuk. Maggot memiliki kemampuan efisien dalam mengurai material organik dalam waktu singkat.

Lebih lanjut, penerapan teknologi pengolahan sampah menggunakan maggot ini sangat sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular. Prinsip ini menekankan pada upaya pengurangan limbah, penggunaan kembali material, dan proses daur ulang yang berkelanjutan.

Konsep inovatif pengolahan sampah organik berbasis maggot ini diperkenalkan secara langsung oleh MIND ID MINERALive pada gelaran pameran INVIROTECH 2026 di Jakarta Convention Center pada hari Sabtu, 13 Juni 2026. Di sana, pengunjung dapat melihat demonstrasi pengolahan sampah plastik dan teknologi 3D printer yang mengubah limbah nonorganik.

Dwi Agus, seorang praktisi Bank Sampah Induk di Bekasi, mengaku sangat terinspirasi setelah melihat langsung berbagai teknologi yang dipamerkan di booth tersebut. "Jadi lumayan inspiratif bagi saya, supaya Bank Sampah kami bisa meraih seperti ini," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa sebagian dari teknologi yang ditampilkan, khususnya pengolahan sampah organik menggunakan maggot, sudah mulai diterapkan di komunitasnya. "Dia menyampaikan, untuk sampah plastik, pengelolaan di tempatnya masih sebatas pemilahan sebelum diserahkan kepada offtaker," tambah Dwi Agus.

Melihat integrasi seluruh proses yang ditunjukkan oleh MIND ID, Dwi Agus mulai membayangkan potensi pengembangan Bank Sampah yang ia kelola menjadi lebih besar. Ia percaya bahwa jika sampah dikelola secara terintegrasi, manfaat ekonomi akan dirasakan warga. "Kalau ada 10 ribu warga yang rutin menabung sampah, dan hasilnya masuk ke koperasi, maka ekonomi sirkular bisa berjalan. Sampah selesai dari sumbernya dan menjadi pendapatan bagi warga," tambahnya.