HOTNEWS.ID - Pemerintah Indonesia perlu mencermati fenomena merapatnya harga minyak mentah jenis Eastern Siberia Pacific Ocean (ESPO) dari Rusia dengan minyak Brent. Perbedaan harga yang semakin tipis ini berpotensi menimbulkan implikasi finansial yang belum tentu menguntungkan.

Perbedaan harga yang menyempit antara minyak mentah ESPO dan Brent menjadi sorotan utama dalam analisis industri minyak dan gas bumi (migas). Fenomena ini memicu pertanyaan mengenai keuntungan dan kerugian yang mungkin dihadapi Indonesia dalam upaya pengadaan pasokan energi.

Praktisi industri migas, Hadi Ismoyo, memberikan pandangan kritis terkait kondisi ini. Ia menekankan bahwa kedekatan harga tersebut patut menjadi perhatian serius pemerintah.

"Dekatnya disparitas harga minyak mentah Rusia jenis Eastern Siberia Pacific Ocean (ESPO) dengan Brent harus diwaspadai pemerintah, sebab bisa terdapat biaya tambahan yang dikenakan," ujar Hadi Ismoyo.

Biaya tambahan atau aspek premium ini seringkali tidak diungkapkan secara transparan kepada publik. Sifat kerahasiaannya membuat informasi ini hanya diketahui oleh pihak pembeli dan penjual dalam transaksi.

"Biaya tambahan atau aspek premium tersebut umumnya tidak diungkapkan secara terbuka, sehingga hanya diketahui antara pembeli dan penjual," jelas Hadi Ismoyo.

Selain itu, skema jual beli yang dipilih akan sangat menentukan harga akhir yang perlu dibayar Indonesia. Skema tersebut juga turut berkontribusi pada tingkat risiko yang akan ditanggung oleh negara.

"Lalu, skema jual-beli juga menentukan harga akhir dan risiko yang ditanggung Indonesia," tambahnya.

Lebih lanjut, Hadi Ismoyo menguraikan implikasi dari skema pembelian yang berbeda. Jika transaksi dilakukan dengan skema freight on board (FOB), terdapat pertimbangan khusus yang harus diambil.